Pesan Menteri Bambang Brodjonegoro kepada Nelayan Lombok Barat

2017-01-31
Placeholder image
Nelayan tidak hanya menangkap ikan, tapi juga harus mampu mengolah hasil laut itu sendiri dengan baik.

Tinggal di negara yang didominasi oleh laut dan kepulauan, semua nelayan dapat memanfaatkan keberadaan laut tersebut. Hal tersebut diungkapkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Prof Dr Bambang P.S. Brodjonegoro saat mengunjungi lokasi proyek Coastal Community Development Project (CCDP) IFAD di Pantai Cemare, Lombok Barat, pada Selasa, 20 Desember 2016. Adapun dalam acara tersebut Bambang didampingi Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid.

“Nelayan tidak hanya menangkap ikan, tapi juga harus mampu mengolah hasil laut itu sendiri dengan baik. Itu nilai lebih yang didapatkan. Bisa dengan membuat beberapa produk, seperti abon ikan, kerupuk ikan, rumput laut, dan lain-lain,” ujarnya.

Hadir pula dalam acara tersebut Sekretaris Daerah Lombok Barat H. Moh Taufiq, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Barat H. Subandi, dan Kepala Bappeda Nusa Tenggara Barat Ridwansyah. Rombongan menteri diikuti Direktur Jasa Kelautan Ditjen PRL Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI Riyanto Basuki dan perwakilan dari The International Fund for Agricultural Development (IFAD). Acara ini juga dihadiri sejumlah Kepala SKPD dan ratusan orang dari kelompok masyarakat dan nelayan sekitar.

Di Lombok Barat, program CCDP-IFAD yang berlangsung sejak 2013 mampu mengurangi kemiskinan di wilayah pesisir. Karena itu, Fauzan berharap program yang akan berakhir pada 2017 ini diperpanjang. “Masyarakat miskin di Lobar terbagi dua, yakni bidang pertanian dan nelayan. Dengan diperpanjangnya program IFAD, kemiskinan di Lobar akan terus berkurang dan kesejahteraan masyarakat meningkat,” katanya.

IFAD merupakan lembaga keuangan di bawah naungan PBB. Programnya berorientasi pada progres pelaksanaan kegiatan pembangunan masyarakat pesisir, yang juga ditujukan untuk mengurangi angka kemiskinan, terutama di kalangan nelayan.

Dukungan untuk meneruskan program ini juga disampaikan Direktur Jasa Kelautan Ryanto Basuki. “Program yang prorakyat harus terus dipertahankan atau diperpanjang agar menjadi solusi untuk mengentaskan orang miskin. Dengan adanya CCDP-IFAD setahun terakhir ini, masyarakat miskin turun 5 persen,” katanya.

Menurut Bambang, ada tiga aspek yang harus terpenuhi agar semua berjalan, yakni para nelayan, kelompok masyarakat yang mengolah ikan, dan pengolahan di bidang perdagangan. Untuk itu, ia berharap seluruh masyarakat nelayan dapat terlibat untuk lebih memaksimalkan manfaat dari laut. Selain itu, menurut dia, keberadaan koperasi sangat penting.

“Dengan adanya koperasi masyarakat, nelayan bisa menabung dan bisa terbantu untuk meneruskan usaha nelayan. Selain itu, dengan adanya dana desa yang cukup besar, tentu bisa membuat terobosan program berkelanjutan yang sudah di lakukan oleh IFAD,” tuturnya sambil mengungkapkan akan mencari peluang untuk mengembangkan CCDP-IFAD lain di Indonesia untuk mengurangi kemiskinan.

Kegiatan juga diisi dialog dengan masyarakat yang hadir dan dilanjutkan dengan peninjauan outlet rumah kemasan, serta mencicipi hasil olahan laut kelompok masyarakat binaan Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Barat. (*)